ORGANISASI, SABDATA.ID – Di tengah hiruk-pikuk dan kemegahan kota Taipei, sebuah ikhtiar sederhana namun penuh makna terus dirintis oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (NU) Taiwan.
Ikhtiar itu bernama TPQ Al-Mustaqimiyah, sebuah taman pendidikan Al-Qur’an yang dihadirkan untuk menumbuhkan generasi Qur’ani di negeri yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.
TPQ Al-Mustaqimiyah baru berdiri sekitar empat bulan terakhir. Lembaga pendidikan Al-Qur’an ini diinisiasi oleh Ketua Lembaga Dakwah PCI NU Taiwan, Gus Harun Ismail, bersama sejumlah aktivis dakwah yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pendidikan Islam bagi anak-anak Muslim di Taiwan.
Kegiatan TPQ dilaksanakan secara rutin setiap hari Sabtu pukul 16.00–18.00 waktu Taiwan, bertempat di kantor sekretariat PCI NU Taiwan.
Meski masih terbilang baru, TPQ Al-Mustaqimiyah telah menghimpun sedikitnya 21 santri. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam: anak-anak dari keluarga Indonesia, keluarga campuran Indonesia–Taiwan, anak-anak Muslim asli Taiwan, hingga anak-anak dari keluarga Muslim yang berasal dari kawasan lain seperti Afrika.
Keberagaman ini menjadikan TPQ Al-Mustaqimiyah sebagai ruang perjumpaan umat Islam lintas bangsa dalam bingkai persaudaraan iman.
Seluruh kegiatan pendidikan dilaksanakan secara gratis tanpa dipungut biaya, sebagai bentuk khidmah dakwah dan pelayanan umat yang diikhtiarkan oleh PCI NU Taiwan.
Dalam sebuah kesempatan, penulis berkesempatan berbincang langsung dengan Gus Harun Ismail mengenai harapan jangka panjang TPQ ini.
Baca juga: Melihat Ayat-Ayat Allah di Negeri Formosa Taiwan: Catatan Perjalanan Dai Go Global LD PBNU
Ia menuturkan bahwa TPQ Al-Mustaqimiyah tidak hanya bertujuan mengajarkan baca tulis Al-Qur’an, tetapi juga menyiapkan generasi penerus Islam di Taiwan.
Ke depan, para santri diharapkan dapat melanjutkan pendidikan ke pesantren-pesantren di Indonesia. Dengan bekal ilmu agama yang lebih mendalam, mereka diharapkan kelak kembali ke Taiwan sebagai generasi penerus yang mampu mengembangkan Islam di negeri Formosa.
Harapan tersebut menjadi penting mengingat keterbatasan lembaga pendidikan Islam di Taiwan. Kehadiran generasi yang memahami Al-Qur’an dan ajaran Islam secara mendalam menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Para santri TPQ Al-Mustaqimiyah diharapkan dapat menjadi estafet perjuangan dakwah, menjaga cahaya Islam tetap hidup di negeri ini dari masa ke masa.
Suasana haru terasa saat penulis berkesempatan mengunjungi kegiatan TPQ pada Sabtu (21/2/2026). Di kantor PCI NU Taiwan tampak anak-anak Muslim duduk melingkar, belajar mengaji dengan suara lirih namun penuh kesungguhan. Huruf demi huruf mereka baca perlahan, menunjukkan semangat belajar yang tulus.
Pemandangan itu menghadirkan perasaan syukur yang mendalam. Penulis teringat bahwa dirinya ditakdirkan lahir sebagai anak seorang Muslim dan tumbuh di lingkungan mayoritas Islam—sebuah nikmat yang sering kali terasa biasa, namun sesungguhnya sangat berharga.
Di negeri yang jauh dari kampung halaman, nikmat itu justru terasa semakin nyata.
Wajah-wajah kecil para santri tampak berbinar setiap kali berhasil melafalkan ayat dengan benar. Mereka belajar membaca Al-Qur’an—mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang tetap hidup sepanjang zaman.
Di tempat yang jauh dari negeri Muslim, ayat-ayat suci itu tetap dibaca, dijaga, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Ingatan penulis pun melayang pada masa kecil ketika pertama kali belajar mengaji. Lidah yang dahulu terbata-bata mengeja huruf demi huruf Al-Qur’an menjadi bagian dari perjalanan iman yang tidak terlupakan.
Dari alif hingga ya, dari satu ayat ke ayat berikutnya, proses itu membentuk kecintaan terhadap kitab suci yang terus hidup hingga hari ini.
Kehadiran TPQ Al-Mustaqimiyah menjadi bukti bahwa dakwah tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan megah. Terkadang dakwah justru tumbuh dari ruang sederhana dari lingkaran kecil anak-anak yang belajar membaca Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan.
Di tengah menjulangnya gedung-gedung modern kota Taipei dan derasnya arus kehidupan metropolitan, TPQ Al-Mustaqimiyah hadir sebagai cahaya kecil yang terus menyala.
Dari ruangan sederhana di kantor PCI NU Taiwan itulah diharapkan lahir generasi pecinta Al-Qur’an generasi yang mampu menjaga iman mereka meski hidup jauh dari negeri Muslim.
TPQ Al-Mustaqimiyah bukan sekadar tempat belajar mengaji. Ia adalah harapan harapan agar ayat-ayat Allah terus bergema di negeri Formosa, hari ini dan di masa yang akan datang.
Ia menuturkan bahwa TPQ Al-Mustaqimiyah tidak hanya bertujuan mengajarkan baca tulis Al-Qur’an, tetapi juga menyiapkan generasi penerus Islam di Taiwan.
Ke depan, para santri diharapkan dapat melanjutkan pendidikan ke pesantren-pesantren di Indonesia. Dengan bekal ilmu agama yang lebih mendalam, mereka diharapkan kelak kembali ke Taiwan sebagai generasi penerus yang mampu mengembangkan Islam di negeri Formosa.
Harapan tersebut menjadi penting mengingat keterbatasan lembaga pendidikan Islam di Taiwan. Kehadiran generasi yang memahami Al-Qur’an dan ajaran Islam secara mendalam menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.
Para santri TPQ Al-Mustaqimiyah diharapkan dapat menjadi estafet perjuangan dakwah, menjaga cahaya Islam tetap hidup di negeri ini dari masa ke masa.
Suasana haru terasa saat penulis berkesempatan mengunjungi kegiatan TPQ pada Sabtu (21/2/2026). Di kantor PCI NU Taiwan tampak anak-anak Muslim duduk melingkar, belajar mengaji dengan suara lirih namun penuh kesungguhan. Huruf demi huruf mereka baca perlahan, menunjukkan semangat belajar yang tulus.
Pemandangan itu menghadirkan perasaan syukur yang mendalam. Penulis teringat bahwa dirinya ditakdirkan lahir sebagai anak seorang Muslim dan tumbuh di lingkungan mayoritas Islam—sebuah nikmat yang sering kali terasa biasa, namun sesungguhnya sangat berharga.
Di negeri yang jauh dari kampung halaman, nikmat itu justru terasa semakin nyata.
Wajah-wajah kecil para santri tampak berbinar setiap kali berhasil melafalkan ayat dengan benar. Mereka belajar membaca Al-Qur’an—mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang tetap hidup sepanjang zaman.
Di tempat yang jauh dari negeri Muslim, ayat-ayat suci itu tetap dibaca, dijaga, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Ingatan penulis pun melayang pada masa kecil ketika pertama kali belajar mengaji. Lidah yang dahulu terbata-bata mengeja huruf demi huruf Al-Qur’an menjadi bagian dari perjalanan iman yang tidak terlupakan.
Dari alif hingga ya, dari satu ayat ke ayat berikutnya, proses itu membentuk kecintaan terhadap kitab suci yang terus hidup hingga hari ini.
Kehadiran TPQ Al-Mustaqimiyah menjadi bukti bahwa dakwah tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan megah. Terkadang dakwah justru tumbuh dari ruang sederhana dari lingkaran kecil anak-anak yang belajar membaca Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan.
Di tengah menjulangnya gedung-gedung modern kota Taipei dan derasnya arus kehidupan metropolitan, TPQ Al-Mustaqimiyah hadir sebagai cahaya kecil yang terus menyala.
Dari ruangan sederhana di kantor PCI NU Taiwan itulah diharapkan lahir generasi pecinta Al-Qur’an generasi yang mampu menjaga iman mereka meski hidup jauh dari negeri Muslim.
TPQ Al-Mustaqimiyah bukan sekadar tempat belajar mengaji. Ia adalah harapan harapan agar ayat-ayat Allah terus bergema di negeri Formosa, hari ini dan di masa yang akan datang.
Citizen: Rifki Yusak (Dai Go Global LD PBNU)

0 Komentar
Beri komentar masukan/saran yang bersifat membangun