SASTRA, SABDATA.ID – Selasa pagi, 18 Februari 2026. Udara musim dingin menyelimuti Taipei ketika hari kedua perjalanan dakwah kami dimulai. Dari ruang sederhana di kantor Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Taiwan, aku terbangun dengan tubuh yang masih beradaptasi dengan suhu subtropis. Seorang kawan menunjukkan layar ponselnya: 16 derajat Celsius.
Dingin yang jarang kusentuh di Indonesia terasa menembus hingga tulang. Nafas sedikit berat, tetapi justru menghadirkan kejernihan dalam pikiran. Udara pagi Taipei seperti mengajakku lebih peka membaca ayat-ayat kebesaran Allah yang terhampar di negeri yang jauh dari kampung halaman.
Perjalanan dakwah Dai Go Global tidak selalu berlangsung di mimbar dan majelis taklim. Terkadang ia hadir dalam langkah-langkah kecil menyusuri kota asing, ketika mata belajar melihat dan hati belajar memahami.
Pagi itu, bersama para dai Worldwide Dakwah Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, kami diajak Ketua LD PCI NU Taiwan menuju sebuah taman kota yang sedang ramai dikunjungi warga. Musim bunga sakura baru saja tiba. Bertepatan pula dengan suasana Tahun Baru Imlek, Taipei tampak lebih semarak dari biasanya.
Perjalanan dimulai dari gedung PCI NU Taiwan. Kami menyusuri lorong pusat perbelanjaan bawah tanah yang terhubung langsung dengan stasiun MRT. Dari sinilah denyut kehidupan kota modern itu terasa nyata.
Orang-orang berjalan cepat tanpa saling mendahului. Barisan antrean terbentuk rapi bahkan sebelum kereta datang. Tidak ada suara gaduh, tidak pula wajah tergesa. Semua bergerak dengan kesadaran yang seolah telah menjadi budaya.
Di dalam MRT suasana hening hampir sempurna. Tidak seorang pun makan atau minum. Tidak ada petugas yang mengingatkan, tetapi aturan dipatuhi sepenuh kesadaran. Kami keluar-masuk stasiun menggunakan kartu elektronik yang disentuhkan sekejap di pintu otomatis. Bahkan kereta yang kami tumpangi berjalan tanpa masinis.
Modernitas di kota ini tidak tampak gaduh. Ia hadir dalam ketertiban yang tenang.
Sebagai musafir dakwah, aku justru merasakan pelajaran yang dalam di ruang-ruang seperti ini. Islam mengajarkan ketertiban sebagai bagian dari iman, tetapi di negeri yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, nilai itu justru tampak hidup dalam keseharian.
Perjalanan berganti jalur dua kali sebelum akhirnya kami berjalan kaki beberapa menit menuju taman tujuan. Dari kejauhan warna merah muda sakura sudah tampak memikat mata.
Baca juga: NU Taiwan - TPQ Al Mustaqimiyah: Nyalakan Cahaya Al-Qur’an Tengah Megahnya Kota Taipei
Ratusan orang memadati taman itu. Anak-anak berlarian, pasangan muda berfoto, orang-orang tua berjalan santai di antara pepohonan yang sedang bermekaran. Semua larut dalam kegembiraan sederhana menyambut musim bunga.
Aku berhenti sejenak di bawah gugusan sakura.
Kelopak-kelopak lembut bergoyang tertiup angin pagi. Sesekali beberapa helai jatuh perlahan ke tanah. Keindahannya menghadirkan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Bunga-bunga itu seakan mengingatkan bahwa keindahan dunia selalu bersifat sementara—mekar sebentar, lalu gugur tanpa suara.
Beberapa kali kami mengabadikan momen di antara pepohonan sakura yang sedang mencapai puncak mekarnya. Senyum mengembang begitu saja. Bagi seorang dai yang mengemban amanah dakwah lintas negara, perjalanan seperti ini bukan sekadar wisata. Ia adalah ruang belajar yang menghadirkan kesadaran baru tentang luasnya ciptaan Allah.
Di ujung taman mengalir sebuah sungai kecil yang airnya tampak jernih. Ikan-ikan berenang bebas tanpa gangguan. Tidak ada jaring, tidak pula kail. Orang-orang hanya berdiri memandangi air yang bergerak tenang.
Tak seorang pun mencoba menangkapnya.
Ada kesadaran bersama untuk menjaga keseimbangan alam.
Di titik itu aku kembali merenung. Di negeri yang jauh dari tradisi Islam, aku menyaksikan nilai-nilai yang sangat dekat dengan ajaran agama: kebersihan, ketertiban, disiplin, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Seakan-akan ayat-ayat tentang amanah menjaga bumi hidup dalam tindakan sehari-hari.
Perjalanan hari kedua ini terasa seperti pelajaran terbuka tentang peradaban: bahwa iman semestinya melahirkan ketertiban, dan kemajuan teknologi hanya akan bermakna jika berjalan bersama kesadaran moral.
⸻
Menjemput Maghrib di Tanah Sejarah
Menjelang sore, perjalanan kami berlanjut menuju salah satu kawasan bersejarah yang menjadi simbol perjalanan bangsa Taiwan.
Kami kembali menaiki MRT dari stasiun terdekat. Perjalanan singkat itu kembali menghadirkan kekaguman. Lorong bawah tanah yang bersih, papan petunjuk yang jelas, serta arus manusia yang tertib membuat langkah terasa ringan.
Di kota ini, waktu berjalan presisi.
Begitu keluar dari stasiun, bangunan besar dengan atap biru dan dinding putih berdiri megah di hadapan kami. Halamannya luas membentang, diapit gerbang besar dan taman yang tertata rapi. Tempat itu bukan sekadar tujuan wisata, tetapi ruang sejarah yang menyimpan ingatan kolektif sebuah bangsa.
Langkah kami melambat ketika memasuki pelatarannya.
Wisatawan dari berbagai negara memenuhi kawasan itu. Sebagian sibuk berfoto, sebagian duduk menikmati senja yang perlahan turun. Tangga tinggi menuju bangunan utama menjulang seolah mengajak setiap orang menapaki jejak sejarah.
Dari atas tangga, kota Taipei tampak membentang dengan gedung-gedung modern yang berdiri kokoh. Kemajuan yang terlihat hari ini terasa seperti hasil dari perjalanan panjang yang tidak singkat.
Di aula utama berdiri patung tokoh besar yang dihormati dalam sejarah Taiwan. Orang-orang datang dengan caranya masing-masing untuk mengenang masa lalu.
Aku berdiri sejenak.
Setiap bangsa memiliki cerita perjuangannya sendiri. Kemajuan tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari proses sejarah yang panjang, penuh kerja keras dan pengorbanan.
Senja perlahan tenggelam.
Langit berubah keemasan sebelum akhirnya gelap merayap turun. Di pelataran luas yang diapit bangunan bersejarah itu, kami membentangkan sajadah sederhana untuk menunaikan shalat Maghrib.
Di negeri yang jauh dari kampung halaman, kami bersujud kepada Allah yang sama.
Ada getaran haru yang sulit dijelaskan. Di pusat sejarah sebuah bangsa, kami menghadap Tuhan semesta alam. Di tengah arus wisatawan dan hiruk kota modern, doa-doa kami melangit tanpa batas.
Perjalanan dakwah lintas negara terasa menemukan maknanya di saat-saat seperti ini.
Selepas Maghrib kami bergegas kembali menuju gedung PCI NU Taiwan untuk menunaikan shalat Tarawih Ramadhan. Tubuh mulai terasa lelah, tetapi semangat pengabdian tetap menyala.
Hari kedua di Taiwan menghadirkan pelajaran yang semakin dalam. Dari mekarnya sakura hingga kemegahan bangunan sejarah, tampak dua wajah negeri ini: keindahan alam dan kekuatan peradaban.
Di tengah semua itu, aku hanyalah seorang musafir dakwah—datang membawa amanah sekaligus pulang membawa pelajaran.
Di negeri orang, aku tidak hanya berdakwah. Aku belajar tentang disiplin, tentang penghormatan terhadap sejarah, dan tentang bagaimana sebuah bangsa membangun jati dirinya dengan kesungguhan.
Perjalanan masih panjang.
Setiap sudut Taiwan seakan menyimpan hikmah yang menunggu untuk dibaca seperti ayat-ayat Tuhan yang terbentang di semesta.
Dan sebagai dai yang berjalan menembus batas negeri, aku hanya berharap dapat terus melihat, belajar, dan bersyukur.
Penulis: Rifki Yusak

0 Komentar
Beri komentar masukan/saran yang bersifat membangun